Terapi Terpadu untuk Anak Tuna Rungu

Keywords: terapi mendengar / terapi dengar, auditory verbal therapy / terapi auditori verbal, auditory oral therapy, AVT / TAV, terapi wicara, implan koklea / cochlea implant, alat bantu dengar / ABD, komunikasi, tunarungu

Banyak yang mau ditulis, tapi masih repot sama si baby. Tapi kemarin harus nulis buat pihak sekolah si kakak, jelasin beberapa hal. Ini menyangkut komunikasi si kakak, Ellen (6 tahun), yang tuna rungu tapi kami masukkan sekolah umum. Sekaligus berbagi informasi di sini, kalau-kalau berguna. Tulisan terkait akan menyusul (silakan lihat di Recent Posts).

Prinsip Dasar Terapi Ellen
(Terapi terpadu = terapi mendengar + terapi wicara)

1. Mendengar melalui telinga yang dibantu ABD, bukan karena melihat gerakan tangan atau gerakan mulut.

2. Keterbatasan si anak dalam merespon pembicaraan kita adalah karena belum mengerti kata/kalimat yang didengar (keterbatasan kosa kata, karena baru mulai mendengar selama 2 tahun), sehingga perlu dibantu dengan gambar/gerakan tangan. Tetapi bantuan inipun sifatnya hanya sesaat dalam rangka memasok kata baru, setelah kata tersebut dimengerti, bantuan visual dihilangkan.

3. Karena itu yang penting adalah memasok kosa kata ke telinga Ellen, tanpa menuntut dia segera/langsung dapat mengerti apalagi mengucapkan. John Tracy Clinic menuliskan: untuk dapat mengerti suatu kata si anak harus mendengar 100 kali, untuk dapat mengucapkan ia harus mendengar 1000 kali. Jadi sejak Ellen memakai ABD kami konsentrasi memasok dan memasok kata ke telinganya (saat bercakap-cakap normal, maupun saat spesifik mengajarkan kata-kata baru).

4. Teknik berbicara adalah dengan volume suara normal di dekat telinganya. Hal ini bertujuan agar suluruh konsonan dapat ditangkap. Bicara pada jarak yang lebih jauh dengan suara keras (berteriak) menyebabkan yang ditangkap hanya vokal saja.

5. Kami telah menerapkan point 1-4 selama 1 tahun dan telah terbukti menunjukkan hasil yang baik. Pada akhir tahun pertama, dia baru memiliki bahasa reseptif (paham beberapa kata yang kami ucapkan tanpa dia melihat gerak bibir, tapi dia belum bisa mengucapkannya), lalu setelah itu mulai muncul kata-kata pertamanya (walau pengucapan tidak sempurna, tetapi konsisten), dan langsung disusul dengan kata-kata berikutnya. Metode ini biasa disebut teknik auditory verbal. Ini yang kami terapkan…

6. Kendala yang muncul adalah pengucapan yang masih sangat lemah, karena itulah atas saran John Tracy Clinic kemudian Ellen dibantu terapi wicara (di suatu RS). Terapis wicara membantu membentuk pengucapan Ellen dengan teknik terapi wicara terhadap kata-kata yang sudah dimengerti Ellen tetapi belum bagus pengucapannya. Walaupun hanya 4 bulan (terpaksa quit karena tidak tertampung jadwal baru mereka yang hanya pagi–siang), pola ini telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Metode auditory verbal + terapi wicara ini biasa disebut auditory oral. Ini yang kami lanjut-terapkan saat ini (dengan bantuan terapis wicara di sekolah).

Catatan:
– Penelitian modern menyatakan hampir semua anak tuna rungu masih punya sisa pendengaran (tidak 100% tuli). Sisa pendengaran ini dapat dioptimalkan dengan bantuan alat bantu dengar (ABD, walaupun tidak secanggih implan koklea).
– Tetapi memakai ABD tidak sama dengan orang memakai kaca mata, yang langsung bisa melihat dengan lebih jelas. Karena respon atas stimuli visual adalah langsung, sedangkan respon atas stimuli auditori adalah melalui tahap pemahaman/interpretasi dulu. Untuk mencapai tahap pemahaman yang penting adalah harus sering mendengar dan mendengar, dengan pengucapan yang jelas, kalimat pendek, dan jika perlu disertai bantuan visual: gambar & gerakan tangan (kadang tanpa bantuan akan sulit anak memahami kata-kata baru, mirip kita nonton film berbahasa asing dimana kita mendengar pemain berbicara cas-cis-cus tanpa kita menangkap artinya). Tetapi bantuan itu perlahan dihilangkan, sehingga nantinya hanya akan berkomunikasi secara verbal.(by: mama Ellen, edited by papa Ellen)

Ke Halaman Depan



Topik Tuna Rungu pindah ke http://tunarungu.wordpress.com


About these ads

Tags: , , , , ,

37 Responses to “Terapi Terpadu untuk Anak Tuna Rungu”

  1. erfin Says:

    setuju, hampir semua yg ibu utarakan sesuai dgn apa yg saya jalankan sekarang terhadap anak saya tp alangkah lebih baik kalau kita tetap mengajarkan anak kita membaca bibir sebagai pengganti pendengaran anak yang hilang, karena secanggih apapun alat bantu dengar yg digunakan anak kita tidak akan menggantikan atau menjadikan telinga anak tsb normal jd menurut saya kalau kita tetap memaksimalkan segala potensi yg ada didalam tubuh anak kita

  2. yefvie Says:

    Setuju pak kita harus mempergunakan semua sarana dan melihat semua potensi untuk meningkatkan kemampuan anak kita. Makanya saya tidak menganut “aliran” tertentu dan malah menggabungkan pendekatan terapi mendengar (auditori verbal) dengan terapi wicara (yang biasanya berseberangan). Mengenai gerak bibir, dalam komunikasi sehari-hari biasanya anak akan secara alami melihat gerak bibir kita –that’s fine. Malah kalau si anak sedang tidak pakai ABD (mau tidur) saya bilang “gosok gigi” dia tahu yang saya ucapkan walaupun tidak mendengar karena membaca gerak bibir… tetapi kosa kata “gosok gigi” dulunya kami pasok melalui telinga sehingga ketika dia pakai ABD dan saya ngomong “gosok gigi” dia tetap ngerti walaupun tidak berhadapan (tanpa lihat gerak bibir)… OK pak good luck untuk anak anda semoga banyak kemajuan, dan silakan berbagi2 info…

  3. ATO (ariesta) Says:

    Saya juga setuju dgn Bapak & Ibu. Anak saya tuna rungu, 5th. Skrg berskolah di TK Kepodang kelas A. Dapat berkomunikasi secara verbal dgn baik, mgkn ini karena pemakaian ABD yg maksimal & terapi wicara. Kalo boleh tau, Ellen skrg bersekolah dimana, Bu? Terapi wicara & terapi mendengar dimana? Saya juga mau menjalani terapi mendengar, tapi belom kesampaian… selama ini saya jalanin di rumah tapi menurut saya itu belum maksimal.

  4. yefvie Says:

    Ellen sekolah di sebuah sekolah swasta di Serpong Tangerang, masih TK A (sengaja dimundurin dulu drpd keteteran), sekolah ini merupakan sekolah inklusif yg mau terima anak dg kebutuhan khusus (autis dsb) dg jatah 1 anak per kelas. Walaupun blm gitu pengalaman dg anak tuna rungu spt Ellen tapi terbuka thd masukan kami utk menjalin pola kerjasama sekolah-ortu dlm membantu perkembangan Ellen. Sekolah menyediakan terapis wicara utk menterapi Ellen setiap hari.
    Terapi mendengar (TAV) dulu ikut di suatu RS di JakUt bbrp kali, tapi krn jarak yg jauh, beaya cukup mahal, plus terutama krn hasil yg kurang krn saat itu (ternyata) ABD ellen kurang pas krn hasil tes bera yg kurang akurat, akhirnya kami lanjut lakukan di rumah berbekal pengetahuan yg pernah didapat plus korespondensi dg John Tracy Clinic serta artikel2 yg bs didpt… mgkn suatu saat perlu nimba ilmu lagi, tapi sejauh ini sdh berhasil membawa ellen ke jalurnya, tinggal keuletan menjalani tindak lanjutnya. Yg penting adl keterlibatan segenap anggota keluarga di rumah dlm menerapkan prinsip2 TAV krn pd dasarnya TAV adalah terapi sepanjang hari.

  5. Lukman Says:

    mokasih artikelnyo

  6. Neti Says:

    Artikel Bpk/Ibu sangat membantu sy…Saat ini anak sy 14 bln mengalami gangguan pendengaran berat (100-110 db) dan baru 1 mgu menggunakan ABD. Dan saat ini sy sedang mencari tau dan belajar mengajari anak sy dengan terapi mendengar & bicara ( AVT ). Dan artikel Bpk sangat membantu sekali. Bolehkah sy minta alamat email Bapak/Ibu agat sy bs belajar banyak & sharing, mengingat sy tinggal di daerah yg sangat minim informasi bahkan tidak ada satu tempat pun yg bs melakukan terapy ini. Kecuali SLB yg menggunakan bahasa bibir…

  7. yefvie Says:

    Ibu boleh bersyukur karena bisa segera mulai penanganan sejak dini (kami dulu lambat mulainya, plus nyasar2), nanti bisa saling sharing…

  8. effa Says:

    Anak saya 2 th 10 bln dengan gangguan pendengaran 90 db, dan baru memakai ABD, saya sedang mencari informasi mengenai terapi audio verbal (AVT) dan terapi wicara, saya juga sedang mencari tau mana yang lebih baik dilakukan, AVT atau terapi wicara, kalau dilakukan dua-duanya apa anak tidak bingung? please infonya….send to; effa.sopandi@gmail.com

  9. gradien Says:

    Dulu sehabis periksa dokter menyarankan Ellen pakai ABD dan terapi wicara. Kami jalankan, dengan hasil minimal (juga ada faktor ketidakakuratan hasil periksa sehingga ABD kurang powernya).
    Kemudian kami mengenal terapi mendengar (AVT), dan hasil periksa yang baru sekaligus ABD baru. Kombinasi ABD yang sesuai + terapi mendengar kira2 1 tahun memberi hasil yang bagus (reseptif: si anak mulai mengerti apa yang kami ucapkan).
    Tapi kemudian ada kendala pengucapannya kurang bagus (ekspresif), maka disarankan terapi wicara. Dan ternyata membantu.
    Jadi… jika dari awal anda mengenal terapi mendengar dan menyediakan ABD yang bagus (jangan sayang agak mahal, anggaplah investasi tak ternilai buat anak), coba tekuni barang 1 tahun dan lihat hasilnya. Jika ada perkembangan bagus (reseptif mulai mengerti yang didengar, dan mulai mengoceh), bisa dilanjutkan terapi mendengar.
    Jika bagus di reseptif tapi kurang bagus di ekspresif (pengucapan tidak jelas) bisa dibantu terapi wicara.
    Jika selama 6-12 bulan pertama perkembangannya kurang bagus (reseptif) mungkin ABDnya kurang sesuai (mungkin juga hasil test yang kurang tepat -> perlu test ulang, jika perlu di singapura).
    Yang penting jalur mana yang kita pilih, jalani dulu secara all-out; setelah sekian waktu pantau hasilnya, dan terbuka terhadap jalur lain yang mungkin ternyata lebih sesuai.

  10. Ranurti Says:

    Anak sy skr sdh sklh d santirama, dan menjalani terapi wicara,umurnya 3 th.Ada keinginan pd diri sy suatu saat anak saya bisa masuk sklh umum. Kemampuan memaksimalkan sisa pendengarannya alhamdulillah sdh ckp baik. Sy berpendapat demikian karena kami sdh dpt berkomunikasi untuk topik2 dan kosakata yg dia pahami tanpa harus melihat bibir(pastinya dengan pelafalan dan volume yg tepat). Tapi masih ada keraguan pada diri saya karena sampai saat ini anak sy jika sdg bermain dgn temannya yg bisa mendengar normal,masih sering ga nyambung kalo diajak komunikasi. Mohon masukannya agar sy bisa memberikan yg terbaik u/ anak sy. Trm kasih

  11. Asmar Aziz Says:

    Putra kami tunarungu sekarang umurnya 23 tahun , sedang kuliah disalah satu perguruan tinggi semester 5 . kepada bapak / ibu yang punya putra / putri tunarunggu jangan menyerah ,anak2 tunarunggu tidak kalah dengan anak normal lainnya , cuma beda harus butuh kesabaran untuk mendidiknya karena keterbatasan komunikasi, bahkan banyak anak2 tunarungu yg sudah menyelesaikan kuliahnya ( s1 ).

    SD & SMP sekolah khusus Tunarungu , SMA sekolah umum s/d sekarang kuliah, dan sekarang sudah banyak sekolah umum yang menampung anak2 tuna runggu.

  12. Asmar Aziz Says:

    Bu Ranurti , bagi penderita tuna runggu problemnya pasti masalah pendengaran , apalagi anak ibu umurnya baru 3 tahun ( tahap belajar bicara dan kata2 nya terbatas )
    Mungkin saja bahasa dan kecepatan bicara teman bermain anak ibu cepat , bisa saja dia lagi konsent dengan mainannya yg lain.
    Anak normal seumur anak ibu juga kan begitu bu , bicaranya juga lambat sampai si anak siap berkomunikasi biasanya umur 4 tahun , anak2 tunarungu biasanya butuh waktu lebih panjang.
    Jadi sabar dan yakin bu kalau membaca cerita ibu , anak ibu masih ada sisa pendengaran. Rajin diajak bicara saja bu , pasti berhasil tks

  13. yefvie Says:

    Trimakasih utk sharing ibu & bpk.
    Biasanya anak tuna rungu memang tidak segera bisa berkomunikasi dgn teman2nya. Ellen juga suka bergaul, dgn komunikasi yg masih terbatas. Beda dgn di rumah yang sudah lumayan, karena orang rumah ngerti apa yang dia katakan walaupun banyak kata2 yang belum jelas (tapi konsisten). Orang rumah juga kalau berbicara kpd ellen menggunakan kosa kata yang dia sudah tahu. Sedangkan di luar, teman2nya atau orang lain bicara secara biasa (dgn kosa kata yg banyak) yang belum dimengerti ellen.
    Kuncinya di kosa kata (yang si anak ngerti, baik ketika dengar ataupun ketika ngomong) dan kejelasan pengucapan si anak, serta kejelasan pengucapan orang yang didengar si anak (keterbatasan ABD).
    Yang penting keuletan kita, perlahan tapi pasti…

  14. dera Says:

    Bapak Ibu Mohon informasi, anak sya usia 1,5 th ganguan pendengaran 100 DB kiri kanan, anak sy sudah mengguankan ABD 6 bulan tapi blm ada respon mendengar, dari pengalam bapak/ibu berapa lamakah si anak setelah mengguankan ABD baru ada respon mendengar dan kami mohon informasi tempat untuk terapi mendengan, atau adakah cara2 ( Tips N Trik ) terapi mendengar yang dapat dilkukan dirumah. mohon sharing dari bapak & ibu, terima kasih

    >>> REPLY >>>
    silakan lihat reply di http://tunarungu.wordpress.com

  15. Rifah Zainani Says:

    Anak saya diketahui menderita gangguan pendengarn ketika usia 3 tahun 4 bulan. Saat itu saya langsung memakaikan alat bantu dengar dan melatahnya untuk mendengar selama kurang lebih satu tahun. Alhamdullikah anak cepat merespon suara jika ia dipakaikan alat bantu dengar, bahkan dia bisa membedakan suara pesawat dan azan. Namun ketika alat bantu anak saya rusak pada saat ia berusia 5 tahun dan harus diganti dengan yang baru, sementara harga alat bantu saat ini cukup mahal akhirnya anak saya tidak lagi saya pakaikan alat bantu. Yang ingin saya tanyakan, apakah jika anak saya saya pakaikan alat bantu dengar dan melatih pendengarnya masih memungkinkan mengingat sekarang ia sudah berusia 7 tahun? kedua adakah informasi dari rekan-rekan sekalian tentang harga alat bantu yang bisa dicicil atau yang murah, atau barangkali ada lembaga atau yayasan yang memberikan sumbangan alat bantu dengar. Terima kasih

  16. Asmar Aziz Says:

    Bu Rifah Zainani , kalau membaca tulisan ibu , sisa pendengaran anak ibu masih ada tetapi berapa % ( mungkin bisa di cek pada dr THT / rumah sakit ) , dahulu anak ibu bisa memebedakan suara Azan dengan Pesawat berarti pendengarannya ada respon. Pertanyaan ibu , apakah jika anak saya pakaikan alat bantu dengar dan melatih pendengarnya masih memungkinkan mengingat sekarang ia sudah berusia 7 tahun?, tidak ada yang tidak mungkin bu semua pasti bisa cuma kita butuh upaya lebih dan kesabaran , Mungkin ibu bisa latih banyak dengan bahasa gerak bibir ( sesuai saran bpk/ibu yg lain ) , itu akan lebih membantu disamping alat bantu dengar ( jk sdh ada) . Anak tunarungu harus sering diajak bicara /berkomunikasi , dan kita harus siap banyak mendengarkan kalau dia berbicara & sebagai orang tua sebaiknya juga harus banyak belajar bahasa nya sianak, sehingga dia tidak minder nantinya. Demikian bu terima kasih moga bermanfaat mohon maaf jika salah & dan menggurui.

  17. Asmar Aziz Says:

    Bu Dera , masalah berapa lama respon sianak jika menggunakan ABD ( anak ibu sdh 6 bulan tapi blm ada respon mendengar), mungkin ibu bisa konsultasi lagi ke dokter . Anak ibu baru I.5 th mungkin saja butuh waktu ( kalau kita bandingkan dengan anak normal umur 1,5 thn kan masih terbats juga komunikasinya bu ). sabar & usaha bu mudah 2an cepat berhasil. Mohon maaf tks

  18. andy suseno Says:

    Kini telah tersedia baterai ABD da Cochlear Implant berbagai brand kelas dunia dengan harga yang sangat ekonomis berkisar antara 20 – 30 ribu rupiah.

    Semoga informasi bermanfaat bagi mereka pemakai Alat Bantu Dengar (ABD) dan Cochlear Implant.

    […]

    Best Regards
    Andy Suseno

    […]
    Blog : http://kotabatere.wordpress.com

  19. cassandra Says:

    Bu Yefvie, jika sy boleh tahu, grade BERA Ellen berapa? Kmdn ABD yang dipakai Ellen merek dan jenisnya apa, serta harga dan belinya di mana?
    Mohon infonya. Terima kasih banyak.

    Cassandra

    REPLY>>
    Ellen kiri 120dB (tdk terukur), kanan rata2 90db (sebenarnya berbeda dB tiap frekuensi). Ibu bisa lihat-lihat dulu ke beberapa hearing center dan memilih ABD yang sesuai (coba dengarkan kejernihan suaranya, menggunakan selang). Ada barang ada harga :-) Kalau memang ada dana tidak perlu sayang beli yang bagus. Tetapi yang penting pastikan hasil Bera benar dan setting ABD tepat (biasanya bertahap diset 2-3 kali). Kalau setelah Bera & pakai ABD tidak kunjung ada hasil (minimal mendengar waktu dipanggil) perlu cek lagi…

  20. Donny Says:

    Bu Ellen. Di Bandung juga ada anak seperti Ellen saya sudah sekolah menengah ats di sekolah umum, namanya Shafa. Untuk info lanjut bisa dilihat di web akubisadengar.info

    Salam takzim,
    Donny

  21. joko Says:

    bapak/ibu yang terhormat,

    mungkin saya termasuk orang tua yang kurang tanggap dengan kondisi anak saya. saya telat memeriksakan ke dokter THT. waktu itu umur Arina ( anak saya ) sudah 2,3 tahun baru test BERA, waktu ke dokter THT pertama kali, diagnosanya hanya karena kotoran saja. sekarang saya sudah belikan ABD dan terapi wicara, tapi sampai saat ini anak saya belum mau memakainya, bahkan marah2 sambil menutup telinganya. saya terus berusaha dan terapi wicara, namun baru 2 kosa kata yang bisa diucapkan kata BOBOK dan SUSU ( minta minum susu ). selebihnya belum. sekarang Arina sudah 3 tahun. untuk itu saya minta saran bapak/ibu bagaimana caranya agar Arina mau pakai alat bantu.

    terima kasih.

  22. gradien Says:

    silakan lihat reply di http://tunarungu.wordpress.com

    bpk/ibu yang hendak menulis komentar silakan ke blog di atas, trimakasih — papa ellen

  23. agung Says:

    saya mempunyai anak umur 3.8 thn pada waktu itu saya kurang memperhatikan karena ada masalah keluarga shngga baru sekarang saya pperiksa telinga ke RSCM di klinik THT Komunitas tes bera OAE pungsi typani mendengar di 90 db Prekuensi 500 dan dianjurkan pakai ABD dan therapi bicara ,pada saat ini dia tidak mau pake tapi masih thrapi bicara kosa kata yang keluar baru ayah ibu ga mau abi dan ada yang lain tapi tidak jelas , anak saya bila ingin sesuatu bila tidak diikuti akan marah dan teriak teriak .apakah semua anak tuna rungu seperti itu , terus gimana cara menanganinya dan apa benar ABD yang mahal akan cepat dalam peroses bicara

    >>> silakan lihat REPLY di http://tunarungu.wordpress.com

  24. susi Says:

    mbk kalo leh tau ABD tu apa ya, trus belinya dimana, harganya berapa, tig dbls di email saya ya kalo sempet, saya sangat bhtuh sekali, terima kasih sebelumnya

    >>> silakan lihat REPLY di http://tunarungu.wordpress.com

  25. dwi yanti Says:

    Salam kenal mama ellen.Sy seorang speech therapist yg jg dikaruniai anak istimewa(tunarungu).Trimakasih….sdh menyempatkan diri utk membuat wadah utk share.Penanganan yg ibu jalankan cukup menginspirasi ortu2 baru yg mendapati ATR.Oh ya,ada jg lho di Bandung ATR(profound deaf) yg cukup menginspirasi saya.Beliau sekolh umum dr TK hingga skr(SMU).Prestasi akademiknya cukup membanggakan.ABD yg dipakai pun msh ANALOG tp mampu komunikasi verbal sangat alami(tdk lip reading or sign language).Jd buat ibu2 & bpk2,jgn putus asa bagi yg memiliki ABD dg teknologi standar,kemajuan ank kita bukan tergantung dr mahal-murahnya ABD,tp tergantung dr ketekunan kita melatih anak kita berkomunikasi.Maaf bukan bermaksud menggurui,TENGKYU

  26. marbun Says:

    mohon penjelasan apakah ABD yg dipakai anak sudah tetap, karena respon yg lama hampir 5 bulan

  27. papa ellen Says:

    @ ibu Dwi Yanti, salam kenal juga bu, akhirnya ada terapis wicara yang bergabung. kalau bisa berbagi tips-tips berkaitan dengan terapi wicara (bagaimana teknik membentuk pengucapan tertentu… misalnya anak kami masih belum bisa mengucapkan konsonan ‘k’ (kakak, koko, dsb) apa ada teknik khusus untuk membantu. kalau ada info judul buku/referensi…

    @ bp Marbun silakan lihat masalah sejenis di http://tunarungu.wordpress.com/#comment-99
    (blog ini sdh pindah ke sana)

  28. Erika Says:

    Dear Papa-Mama Ellen,
    Luar biasa sekali tips2 disini. Saya tunarungu juga, tetapi saya lahir normal, jadi tunarungu usia 8th. Sekarang saya sudah 30th, menikah dengan orang normal, punya putra kembar yang manis2.
    Saat ini saya membantu yayasan untuk tunarungu, dan karena selalu sekolah umum (bukan SLB), saya kebingungan dalam mengajar teman-teman tunarungu (rata-rata yang saya ajar sudah diatas 18th), terutama karena banyak yang cuma mengerti kata dasar dan tidak mengerti perbedaan arti awalan, akhir dll, adakah yang punya tips mengajar tunarungu usia pasca sekolah?jika ada yang tahu alat perag,kurikulum dll, saya tunggu juga kabar baiknya.
    Regards

    REPLY>> ada ibu dwiyanti yang hendak bergabung, silakan kontak lgs by email (http://tunarungu.wordpress.com/#comment-123)

  29. Budi Susilo Says:

    Assalamu’alaikum. Salam sejahtera.
    Salam kenal… Saya Budi, guru SMALB-B YPPALB Kota Magelang. Senang sekali saya dapat bergabung dengan Bapak/Ibu. Dalam pembelajaran saya senang sekali menerima masukan dari para orangtua/wali siswa. Saya selalu ingin tahu apa yang dikehendaki para orangtua/wali. Dengan adanya wadah ini, saya bertambah wawasan dan informasi. Benar Bapak/Ibu, kita tidak perlu berkecil hati dengan keadaan anak kita. Siswa-siswi kami juga banyak yang berprestasi. Contohnya anak didik saya, Si Agung, juara melukis Pelajar SMA (umum) Tingkat Kota Magelang dan eks Kars Kedu, Jateng. Juara 2 gambar/cerita komik tingkat nasional, juara 2 modeling tingkat kota dll (semua itu bersaing dengan anak-anak normal). Salah satu teman saya yang tunarungu (Mbak Galuh) juga punya prestasi yang membanggakan, saat ini sedang kuliah S2 di Melbourne Australia atas biaya negara (beasiswa Depkominfo). Dalam pembentukan dan penguasaan bahasa, siswa-siswi kami memang tidak semua sama, bervariasi seiring tingkat desibel pendengaran mereka, tetapi saya sangat setuju dengan langkah-langkah dan terapi yang diterapkan Bapak/Ibu terhadap ananda. Saya akan mencobakan pada siswa-siswi saya.
    Terima kasih Pak/Bu, lain waktu kita sambung. Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan.

    Salam,
    Budi Susilo

  30. Dahlia Mulyani Says:

    Ikut nimbrung dong, saya guru privat selama satu bulan ini saya mendapat 1 siswa tuna rungu berumur 16 tahun yang sedang berlibur dari SDLB . Dia ingin privat matematika , b inggris dan komputer. Dia bisa membaca gerak bibir dan keluar suara sedikit, selama ini saya komunikasi secara oral karena saya tidak bisa bahasa isyarat, dan tulisan. saya mengalami kendala untuk mengajarkan matematika terutama pembagian, apakah ada tehnik khusus. saya sangat bersyukur mendapat kesempatan , pengalaman dan pengetahuan tentang mengajar anak tuna rungu. terimakasih

  31. ija farid Says:

    Salam kenal! Saya Ija, putri saya Fayza 6th juga tuna rungu. Saya sangat salut kpd ortu yang bersedia berbagi pengetahuan dan pengalaman.
    Saya sangat setuju dengan Mas Erfin karena kami pernah punya pengalaman ketika Fayza tidak dapat menggunakan ABDnya selama 2 minggu di ICU. Sebelum sakit, ia hanya mengandalkan pendengaran…dari pengalaman tsb…kami menggunakan keduanya : membaca bibir & melatih sisa pendengaran.
    Sekarang ia bersekolah di SD Semut-semut, Depok….setelah melalui TKLB-B Santi Rama.

  32. MASYANDRI Says:

    anak saya bermasalah dengan pendengaran , sekarang sudah berumur 2,5 tahun, belum bisa berbicara,sudah pake alat bantu dengar tapi belumada reaksi, sudah terapi wicara selama 2 bulan tapi sekarang berhenti karena kurang biaya, saya mohon info apa sebaiknya yang harus saya lakukan,
    trims
    masyandri
    pekanbaru

  33. papa ellen Says:

    @ Budi Susilo
    terima kasih pak sharingnya

    @ Dahlia Mulyani
    mgkn ada netter yg punya pengalaman?

    @ ija farid
    terima kasih sharingnya…

    @ MASYANDRI
    silakan lihat reply di http://tunarungu.wordpress.com/#comment-138

    utk selanjutnya komentar/pertanyaan/sharing silakan lgs di http://tunarungu.wordpress.com

  34. faisal abu muadz Says:

    buat mama/papa ellen, saya masih baru memakaikan ABD ke anak saya. Adakah email yg bisa saya hubungi?

    REPLY >>
    sdh diemail. utk pertanyaan anda silakan lihat http://tunarungu.wordpress.com/2009/02/19/memulai-terapi-mendengar-di-rumah/

  35. Automobile Says:

    just passing thru….

    Looking for something else, but nice site. Have an excellent day….

  36. Tunarungu « SLB Karangampel Indramayu Says:

    […] Tags:ABD, auditory verbal, terapi dengar, terapi wicara, Tuna rungu, tunarungu Posted in Tuna rungu | 35 Comments » […]

  37. CATATAN KHUSUS: MELAYANI MURID TUNA RUNGU 2 « BAHAN SEKOLAH MINGGU Says:

    […] Terapi Terpadu untuk Anak Tuna Rungu […]

Comments are closed.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: